KALI PERTAMA OLEH JULIANA MOHAMED
KALI PERTAMA
OLEH JULIANA MOHAMED
UMUR kakak sudah hampir senja. Lansia kata orang. Itu yang paling emak bimbang. Sampai sekarang pun kakak masih tidak ketemu dengan orang yang sesuai dengannya. Bukan kakak tak pernah mengatur janji temu dengan orang yang dia berkenan. Bukan sekali, bukan dua, malah sudah berpuluh kali tapi semuanya tidak berakhir dengan hari bahagia yang kakak diharapkan. Cuba beberapa kali dan asyik gagal, kakak jadi serik dan terus-terusan menderita hinggalah emak ambil keputusan untuk campur tangan.
Emak tidak sanggup melihat kakak berduka lagi. Emak tidak sanggup tengok kakak menangis lagi malam-malam. Emak mahu kakak bahagia. Emak tahu bagaimana kakak rasa kerana emak pernah lalui zaman itu. Sudahnya, bila lelaki-lelaki kacak lagi muda yang kakak sering jumpa itu tidak mampu untuk menjanjikan hari bahagia buat kakak, emak ambil keputusan untuk temukan kakak dengan kawan emak.
Orang kata emak sudah hilang akal. Kawan emak itu sebaya dengan emak. Dia kawan rapat emak dan abah ketika menuntut di Kanada dulu. Kalau difikirkan, dia lebih sesuai untuk emak yang kini sudah menjanda sejak abah pulang ke Rahmatullah lima tahun dulu, tapi emak tetap mahukan dia ditemukan dengan kakak. Kata emak, emak sudah tahu hati budi dia. Sudah kenal benar dengan dia jadi emak pasti, dia tak akan mensia-siakan kakak. Kakak pasti tidak akan berduka lagi. Kakak tidak akan dura lagi dalam mengenangkan hari-hari yang mendatang dengan usia yang kian memanjat. Kakak pasti akan temui hari bahagia.
Dia yang layak kakak panggil bapa itu akhirnya emak temukan dengan kakak. Kakak mulanya meraung-raung. Kakak tak sanggup. Kakak tak rela berjanji temu dengan orang yang umur lebih separuh abad tapi, bila emak pujuk kakak baik-baik, kakak akur juga. Demi emak, kakak sanggup terima dia.
Dia lembut orangnya. Kacak juga kalau ditelek-tenung betul-betul. Tinggi lampai macam pemain bola keranjang yang kakak selalu tonton di kaca...
More Creative Writing
essays:
My relationship with mirrors.
... garang macam orang perempuan. Kalau dia berleter, habis semua orang kena tempiasnya. mula dia ungkit ... adek beradek. Yang sulung kakakku dan yang bongsu adalah adek lelaki.Bapakku pegawai tinggi dalam Perhidmatan Awam kerajaan. Ibuku seorang guru ...
He saved me
... school teacher. I have an older sister called by her middle name Kemi and a younger sister Bola. Kemi is ten years old while bola is only six years old. My parents are pretty hard working and are never at home ...
A NOITE EM QUE SÓ ROBINHO CHOROU
... a bola. O hino "show é ganhar" foi entoado por Parreira e jogadores como se tivessem encontrado finalmente a fórmula mágica de blindar críticas. Mas não basta ter convicções. É preciso sustentá-las. Nessa caminhada de 42 dias ...
"Abolishing the Death Penalty"
... Penalty (2007). US juries are increasing reluctant to deliver death sentence. Retrieved June 21, 2007, from http://www.demaction.org/dia/organizations/ncadp/news.jsp?key=3245&t=Ross, M. (Feb 11, 1995). Death penalty costs to taxpayers. Retrieved June 17 ...
CLAUS: O FLAGELO
... como "o cartão", que nunca mais sujaria o seu nome, de jeito nenhum, o que é isso. Pagaria tudo em dia, planejaria seus débitos, ajudaria os outros, mas sempre com controle, muito controle. Na primeira retomada aos créditos, perguntou ...